Forum Studi Islam Fosi Fkip Univ. Bengkulu Slideshow: UKM’s trip was created by TripAdvisor. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.

Kamis, 12 Mei 2011

Menyerang Qiyadah Melumpuhkan Dakwah

Assalaamu'alaykum Wr Wb

Muhammad Abdullah Al Khatib*
...
Wahai Ikhwan, karena dakwah kalian merupakan kekuatan besar melawan kedzoliman, maka wajar kalau mereka mengerahkan segala senjata dan kemampuan untuk menghadapi dakwah kalian, bahkan tidak ada satu pun cara kecuali mereka manfaatkan untuk memerangi dan memberangus dakwah kalian.

Cara paling berbahaya yang digunakan oleh musuh yang licik adalah upaya menimbulkan friksi internal di dalam dakwah, sehingga mereka dapat memenangkan pertarungan karena kekuatan dakwah melemah akibat terpecah belah. Dan hal yang paling efektif menimbulkan friksi internal dalam dakwah adalah hilangnya tsiqah antara prajurit dan pimpinan. Sebab bila prajurit sudah tidak memiliki sikap tsiqah pada pimpinannnya, maka makna ketaatan akan segera hilang dari jiwa mereka. Bila ketaatan sudah hilang, maka tidak mungkin ada eksistensi kepemimpinan dan karenanya pula tidak mungkin jamaah dapat eksis.

Senin, 09 Mei 2011

TAHAPAN DAN URUTAN AMAL

Untuk merealisasikan tujuan yang mulia itu, sebuah gerakan dakwah mesti melakukan tahapan-tahapan amal, kerana salah satu ciri dakwah adalah 'At-tadarruj fi al-khutuwaat'  (bertahap dalam langkah dan perancangan).

Tahapan-tahapan amal yang mesti dilakukan adalah seperti berikut :
  1. Tahapan seruan (di'ayah), pengenalan (ta'rif) dan penyebaran fikrah (nasyr al-fikrah) kepada masyarakat.
  2. Tahapan pembinaan (takwin) dan pemilihan pendukung (takhyir al-anshar), penyediaan pasukan / perajurit  (I'dad al-junud) dan mobilisasi barisan (ta'biah ash-shufuf) dari kalangan mad'u.
  3. Tahapan aplikasi (tanfidz), kerja (amal) dan pengeluaran hasil (intaj).

PERJALANAN MASIH PANJANG DAN PERJUANGAN PENUH ONAK DURI

Menapaki Langkah Langkah Berduri
Menyusuri Rawa Lembah Dan Hutan
Berjalan Di Antara Tebing Curam
Semua Dilalui Demi Perjuangan

Letih Tubuh Di Dalam Perjalanan
Saat Hujan Dan Badai Merasuki Badan
Namun Jiwa Harus Terus Bertahan
Karena Perjalanan Masih Panjang

Kemanakah Hilangnya Wajah—Wajah Itu

Oleh : Zedri AREsti


Dua tahun telah berlalu mengantarkan kami  menyandang status yang disebut  teman-teman “ikhwan” emangnya dulu akhwat ya (o tidak bisa). Hanya karena rahmat ALLAH lah kami masih bisa bertahan disini bersama beberapa orang teman. Disaat  yang lain mundur  dengan berita ataupun tanpa berita. Mencoba untuk tegar bersama “Ksatria 06” disaat yang lain terlempar. Kami ikhlaskan diri kami untuk menjadi penjaga gawang disaat yang lain mencoba penetrasi ke barisan pertahanan lawan, cukuplah bagi kami kebahagiaan itu bila teman-teman mampu merobek jala lawan. Ibarat kata seorang sahabat “ biarlah kami jadi akar asalkan kau tetap jadi bunga”. Subhanallah, luar biasa.

Sabtu, 07 Mei 2011

Pilar-pilar Asasi pada Diri Seorang Da’i Rabbani :

I. Salimul Aqidah (Keselamatan Aqidah dan Kekuatan Iman)

Hal-hal yang harus saya lakukan untuk mencapai kekuatan iman :
  1. Mengabdi kepada Allah dengan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya (Menjaga keikhlasan dalam setiap amal)
  2. Merasa takut oleh-Nya dan tidak merasa takut oleh selain Dia
  3. Mencintai Allah (mahabatullah) sampai hati saya dikuasai-Nya sehingga mendorong saya untuk terus menambah amal baik dan berkorban dengan berjuang di jalan-Nya
  4. Bertawakal kepada Allah dalam segala urusan saya
  5. Menyadari bahwa diri saya selalu dimonitor oleh-Nya (muraqabatullah)
  6. Mengimani bahwa tasrysi (pembuat hukum) hanyalah hak Allah

Jumat, 06 Mei 2011

Biduk Kebersamaan


"Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan memperoleh banyak kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang makin mengecil dan menyempit. Engkau harus tahu bahwa bila duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwamulah yang sempit, bukan dunianya.”
(Ar-Rafi’i)
---

Sabtu, 09 April 2011

PENJELASAN ZIKIR AL MA`TSURAT (ZIKIR KE 6)

Ditulis oleh : Zedri Aresti* 
 

اَصْبَحْنَا وَاَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لاَشَرِيْكَ لَهُ لاَإِلَهَ إِلاَّهُوَ وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ. X3


“Kami berpagi hari dan berpagi hari pula kerajaan milik Allah. Segala puji bagi Allah, tiada sekutu bagi-Nya, tiada Tuhan melainkan Dia dan kepada-Nya tempat kembali”. (3x) 


اَمْسَيْنَا وَاَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لاَشَرِيْكَ لَهُ لاَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَإِلَيْهِ الْمَصِيْرُ.   X3


“Kami bersore hari dan berpagi hari pula kerajaan milik Allah. Segala puji bagi Allah, tiada sekutu bagi-Nya, tiada Tuhan melainkan Dia dan kepada-Nya tempat kembali”. (3x) 



Selasa, 05 April 2011

SEMANGAT MENYAMBUT PANGGILAN DAWAH



Oleh : Ust. Abdul Muiz
Bersemangat dalam menyambut panggilan da’wah menunjukkan adanya keseriusan (jiddiyah) karena keseriusan adalah salah satu ciri kader militan. Keimanan seseorang belum sempurna kecuali apabila mendengar panggilan Allah dan Rasul-Nya segera menyambut panggilan tersebut dengan senang hati dan penuh semangat, Al-Qur’an mengingatkan kita tentang hal itu

“Hai orang–orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (Al-Anfal :24 ).

Kader da’wah apabila mendengar panggilan da’wah ia sambut dengan kata-kata “sam’an wa tha’atan” (kami dengar dan kami taati) “labaik wa sa’daik” (kami siap melaksanakan perintah dengan senang nati). Para sahabat Rasul di saat menjelang perang Badar, ketika Rasul ingin mengetahui kesiapan mereka untuk perang menghadapi musyrikin Quraisy, mengingat tujuan awal mereka bukan untuk perang tetapi untuk menghadang kafilah dagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan, namun kafilah itu berhasil meloloskan diri dari hadangan kaum muslimin, maka Rasul bermusyawarah dengan mereka tentang apa harus dilakukan.

SAATNYA KITA BERBENAH

Disusun dan ditambah oleh : Zedri Aresti (DPLK FOSI 2011)

Orang pandai dan beradab tidak akan tinggal diam di kampung halamannya, tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kamu akan dapatkan pengganti karib kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang (Imam Syafi’i)

Mari sejenak Kita bertanya


 MENDERITAKAH ENGKAU MENJADI IKHWAH
Oleh : Zedri Aresti (DPLK FOSI 2011)*

Siang itu kami duduk-duduk santai di pelataran masjid Firdaus bersama ikhwah yang lain. Pada  perbincangan santai itu ada suatu pertanyaan nyentrik yang kami gilirkan kepada semua ikhwah yang ada di masjid pada saat  itu. ~apo rasonyo jadi ikhwah ?~ kira-kira kalau teman dapat pertanyaan seperti ini gimana jawabannya. Bermacam-macam jawaban yang kami dapatkan saat itu ~biaso bae~  jawaban yang paling banyak. ~Nah cubo tengok kito dak boleh metean, dak boleh boncengan, dak boleh sms an malam-malam, dak boleh salaman ke tino~ Kami bernyanyi sebentar ~mengapa yang asyik-asyik itu dilarang dst (Rhoma Irama)~  akhirnya kami sampai pada suatu kata ~alangkah menderitanya jadi ikhwah~
Berikut ini penderitaan jadi ikhwah :
(salah satunya seringnya kita ditimpa gosip, maso anak FOSI cak itu) (artinya teman-teman kita tahu bahwa ada nilai kebenaran yang mereka pun mengakuinya dan membebankan pada kita untuk melaksanakannya karena mereka belum mampu lalu kita dikambinghitamkan dianggap munafik,Na`uzubillah,kita hanya mencoba memperbaiki diri, ada saatnya kita jatuh dan disaat itulah kita ditimpa tangga, maka berhati-hatilah dalam menjaga akhlak  Islami saudaraku)
(jenggotny ajo yang panjang itu atau jilbabnyo ajo yang lebar tu) (lebih baik dianggap sok alim daripada sok kafir, lebih baik dianggap sok suci daripada sok najis,,he he, tapi dibalik semua itu kita yakin semua ikhwah tidak seperti ini)
(maso pakai celana dasar terus, atau pakai batik terus,pakai pensil sekali-kali) (aduh ini memang agak susah,bahkan ada yang tergoda untuk memakai celana pensil yang kuncup ke bawah, termasuk saya dulunya,akhirnya ya emang gak nyaman, biarlah biduak lalu kiambang batauik,lebih enak kan pakai celana dasar, nyaman ringan,jadi tak usah malu pakai celana dasar,santai aja, celana celana kita, yang beli orangtua kita)
(Dan Masih Banyak Yang Lain Silahkan Ditambahkan)
Kasihan sekali melihat kader Forum Studi Islam atau biasa disingkat dengan sebutan FOSI. Mungkin itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan apa yang dialami oleh kader-kader  FOSI berdasarkan cerita di atas. Ketika mereka dituduh melakukan perbuatan jelek yang belum tentu benar informasinya, informasi tersebut sudah beredar luas melalui perantara-perantara yang hebat. Sedangkan ketika mereka berbuat baik, sedikit sekali ataupun mungkin tidak ada para penyampai informasi yang mau menyebarkan informasi tersebut.Informasi tersebut tersebar dengan cepatnya. Bahkan, dalam hitungan menit, semua penyampai informasi sudah menyampaikan informasi tersebut dalam berbagai forum gosip, diskusi di kosan, di bawah pohon rindang, di warung makan yang intinya sama saja.
Tetapi, ketika kader FOSI melakukan perbuatan yang baik, sangat sedikit sekali informasi yang disampaikan oleh para penyampai informasi. Informasi tersebut hanya dikabarkan oleh kader-kader FOSI itu sendiri. Dari apa yang saya perhatikan, “Ini FOSI Man!”  lain, kalau kader yang melakukan keburukan itu nilainya dalam gosip mungkin very hot, tapi kalau orang biasa itu mah biasa udah basi.
Ada  sebuah firman Allah SWT dalam Al Qur’an yang berbunyi :
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (QS. An Nuur 11-12).
Entah apa yang ada dibenak para pemberi informasi. mereka tidak menggunakan etika dalam penyampaian informasi. Mereka lebih cenderung tidak adil terhadap pemberitaan  FOSI. Lantas apa dampaknya bagi masyarakat kampus?
Masyarakat kampus yang sudah terbiasa mendapatkan informasi yang jelek tentang FOSI, maka mereka akan terkejut serta bertanya-tanya apakah benar kader FOSI telah berbuat sedemikian.
Banyak orang yang bertanya-tanya dengan nada kasar tentang apa yang dilakukan oleh FOSI terhadap mahasiswa muslim lainnya, „apaan-apan mereka dakwah hanya untuk golongan mereka saja“ Memang, apa yang dilakukan oleh Kader FOSI belum bisa menggemparkan FKIP. Perlahan tapi pasti, para kader FOSI berbusaha memperbaiki kepribadian mereka dan kepribadian masyarakat kampus.
Buat anda yang merasa bahwa anda merupakan kader FOSI, janganlah bersedih hati karena Allah SWT selalu menyertai setiap langkah baik yang kalian lakukan. Yakinkanlah pada hati anda semua untuk terus menebar kebaikan bagi orang lain guna mewujudkan kampus Islami sesuai Visi Forum Studi Islam.
Kalian jangan bersedih atas perlakukan seperti ini. Yakinlah bahwa sangat mudah bagi Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa untuk membuat masyarakat kampus  peduli terhadap perjuangan kalian dan ikut berpartisipasi dalam perjuangan kalian. Biarkan para penyampai informasi memberikan informasi yang jelek tentang kalian. Do’akan mereka agar mereka mendapat cahaya yang terang sehingga bisa bersama-sama bergerak bersama kita nantinya. Tetaplah ikhlas dalam menebar manfaat, terus BEKERJA UNTUK FOSI TERCINTA, FOSI TERCINTA KUJAGA DAN KUBELA.
Menderitakah antum jadi ikhwah? (silahkan jawab sendiri)
* dari diskusi dan saduran OSH 87

Selasa, 28 Desember 2010

MENJEMPUT KENANGAN DI LMDK 2


(LATIHAN MANAJEMEN DAKWAH KAMPUS 2)  UKM KEROHANIAN UNIB
Oleh : Zedri Aresti
                        Darul ‘Ulum menjadi saksi perjuangan saya dan teman-teman yang lain mengikuti tahapan Kaderisasi yang bayak dikiritisi oleh teman-teman yang kritis sebagai formalitas. Sekalipun demikian ternyata tak seorang pun yang mampu membuktikan bahwa kegiatan ini hanyalah formalitas karena  memang tidak ada tolak ukur yang bisa dipertanggungjawabkan untuk membuktikan dalil formalitas itu. Hanya saja memang harus ada pembenahan dan perbedaan perlakuan pada perjenjangan kader yang harus sama-sana kita sempurnakan. Semua konsep dakwah kampus itu sudah mantap adanya di Universitas Bengkulu  tercinta ini, tinggal bagaiamana kita mnerapkan dalam tataran teknis, walaupun terkadang teman-teman berkata “itu kan masalah teknis”. Justru karena masalah teknis  maka harus semakin jelas dan nyata tahapan demi tahapannya. Saya masih ingat perkataan Kak Aji “ Aktivis Dakawah itu gagap mengaplikasikan keIslamannya dalam tataran-tataran teknis di berbagai lini kehidupan. Konsepnya melangit tetapi sayang aplikasinya (teknis) tidakk membumi.”    Beranjak dari kenyataan inilah saya kembali tergugah mengiki LMDK 2 kembali karena saya tidak lulus tahun kemaren dan juga saya ingin jenjang kader saya harus jelas, minimal bagi diri pribadi syukur syukr ini menjadi akhlak organisasi.
Banyak hal yang menyentak dan membuka cakrawala berpikir saya, membuka pintu hati saya ternyata saya ini tidak ada apa-apanya. Sering saya merasa sendiri dalam jama’ah ini tapi kenyataannya tidak karena ada mesin yang senantiasa bergerak tanpa harus saya ketahui, sering saya merasa sudah memberikan yag terbaik untuk dakwah ini tapi ternyata yang saya berikan hanyalah energy sisa bukan energi utama. Saya tersentak karena energy sisa yang saya berikan ternyat atelah menzhalimi teman-teman lain yag memberikan energy ekstranya karena saya turut menyumbang kekurangan energy itu. Terimakasih YA ALLAH Engkau pertemukan aku dengan dakwah ini walau di persimpangan jalan.
Goresan-goresan berikut akan menyampuradukkan kata “saya” dan “kita” supaya teman-teman juga turut merasakan emosi dalam tulisan ini. Ini bukan curhat tapi mencoba untuk berbagi mudah-mudahan teman-teman turut berkontribusi, atau sekedar berpartisipasi, ataupun cukup berafiliasi terhadap dakwah ini.
Fitnahan, hujatan, cacian, dan makian merupakan suatu hal yang biasa bag kebenaran. Kita harus menghilangkan glorifikasi terhadap tokoh masa lalu dan menghilangkan euphoria masa lalu, seolah-olah di masa lalu  dakwah ini begitu baik, sekarang ini mulai melemah. Jika kita beranggapan demikian sesungguhnya kita sendirilah yang lemah dan kita penyumbang energy kelemahan bagi ikhwah yang lain. Kita tidak harus menunggu menjadi pemimpin masa depan, kita itu pemimpin hari ini, lakukan perbaikan itu sekarang dengan merujuk kearifan masalalu  tetap tidak harus menjadikannya glorifikasi, cukup sebagai kaca spion saja, Ibarat sepeda motor tak selamanya kita menggunakan kaca spion nanti kita malah menubruk benda di depan kita, begitu pula dengan dakwah ini jangan melihat ke belakang terus, kita harus visioner, menyingkirkan semua halangan dan rintangan. Seperti lagu Kera Sakti “ Walau halangan, rintangan, tak jadi masalah dan beban pikiran.” Inilah tekad kera sakti yang mengawal gurunya mencari kitab suci. Bagaimana dengan kita? Ada persamaan kita dengan Kera Sakti yaitu sama-sama menyandang tugas dan misi suci.
Untuk meyandang tugas suci ini, kita juga harus punya kesaktian. Kita haruslah seorang pendekar yang memiliki ciri generasi Thaliban (kader Thullabi) sebagai berikut @ aktif di Lembaga Dakwah Kampus, sekalipun kita aktif dimana-mana (jadi superman dan superwoman) tapi Lembaga Dakwah Kampus harus lebih utama karean  domain dakwah kita saat ini adalah kampus maka maksimalkanlah peran kita di kampus @tidak apatis, karean apatis, bukalah sikap seorang pendekar yang membiarkan kejahata merajalela begitu pula seorang aktivis dakwah tidak akan diam meliahat kondisi yang ada @ membina minimal 1 halaqah produktif, wajib hukumnya ini bagi aktivis, jangan-jangan kita hanya mau disuapin matei terus, jadilah kita ikhwah materialistis, kalau sudah semester lima tidak membina halaqah kaderisasnya perlu dipertanyakan, Indeks Jati Diri Kadernya perlu diakreditasi lagi @ memiliki track record akademis, cukuplah dulu para muasis dakwah ini yang kuliah S1 mereka harus sepuluh tahun, sekarag kita harus buktikan bahwa aktivis dakwah itu tidak hanya hitam keningnya karena tahajud, sekarat IPnya karena sibuk tak menentu. Kita patut berbangga dengan sahabta-sahabat yang aktif di LDK dengan prestasi akademis lauar biasa tentu saja tidak hanya diukur dengan Indeks Prestasi. @ memiliki kompetensi dan jaringan pasca kampus @ hafal minimal 2 juz, gimana dengan kita, berapa juz, jangan-jangan aktivis dakwah ini kalah hapalannya dengan anak-anak SMP dan SMA. @ TOEFL minimal 500, jangan anggap ini bahasa kafir, karena penguasaan bahasa jug mengembangkan sayap dakwah. @ menguasai minimal satu bahsa asing, bukan satu bahasa daerah.
TETAP TEGAK BERJALAN DAN TEGAP
WALAU BADAI DATANG MELANDA
Kodisi sekarang menuntut kita untuk lebih banyak bersabar, menuntut kta bekerja lebih banyak. Dari segi kedisiplinan kita sungguh memprihatinkan, pelaksanaan ibadah yang belum begitu sempurna , pemahaman berjama’ah kita yang belum begitu mantap, penjagaan hijab kita yang sembrono. Inilah beberapa indicator yang membuat ALLAH belum memberikan kepemimpinan ini pada kita dan peradaban itu jauh nampaknya akan dijemput1. Apakah kita memang belum siap untuk memimpin negeri ini.
Sebenarnya apa yang kita peroleh hari ini sebenarnya jauh lebih banyak daripada sahabat dari sisi ilmu, tapi kenapa ya kita tak mampu berbuat seperti mereka. Salah satu alasannya karena kita tidak “ngamal” hanya “ngilmu”. Jangan-jangan keilmuan kita hanya untuk debat, mengoreksi orang. Oleh karena itu proses pendidikan dalam dakwah haruslah pendidikan efektif. Pendidikan efektif itu terrcermin dari beberapa hal berikut. @ Al- Qudwah  ((contoh, suri tauladan) Mus’ab bin Umair hanya dua kali halaqah dengan Rasulullah lalu bisa menjadi duta pertama Islam ke Madinah walaupun mimbar petamanya dilempar,, dihina dicela, dan dilempar batu. Bagaimana dengan kita sudah berapa kali kita Halaqah, sudah berapa lama kita Tarbiyah. Sudahkah kita mampu menjadi duta dakwah ini, sudahkah kita mampu menjadi Al-qur’an yang berjalan. Lalu kita bertanya kenapa kenapa dakwah ini sulit dipahami oleh orang lain. Bisa jadi kita yang menyampaikannya tidak jelas dan contohnya pun tidaka ada. Kita tidak menjadi ihtiram bagi umat terlalu sering kita mengharap kifalah dari umat. Menjadi seorang tauladan mengantarkan kita menjadi Ashabus Samrah (pasukan inti) dakwah ini.  @ Al-‘Ilmu, kita  meng-ilmui dakwah ini. Mnyedihkan seorang aktivis ketika ditanya masalah aqidah, masalah fiqh tidak tahu padahal ketika berbicara dakwah mulutnya sampai berbusa-busa menyebut nama para muasis dakwah ini. Bukanka yang harus terpenuhi dahulu adalah saliimul aqiidah, shahihul ibadah, matiinul khulq. Jangan samapai berdakwah terus tapi asasnya tidak kita pahami. Semangat yanga meneggebu tanpa didasari oleh hal fundamental di atas tidak akan bertahan ma. @ Amal (sudah banyak disiggung di awal tadi) hati-hati terhadap orng shaleh yang tidak kerja , biasanya nerjai orang @ Nasehat, dakwah ini harus nasehat-manasehati, siapapun dia kalau memang salah ya harus dinasehati. Tidak perlu takut walau dia sudah tua, senior kita yang malehe. Jika pemahaman seperti ini dibangun maka alangkah indahnya hidup ini. @ ‘Iqab, kalau tidak mau juga mendengar nasehat kita maka hukuman harus diberikan. Sekarang hukuman sering diartikan sebagai sesuatu yang memberatkan  bukan sebagai sesuatu yang menimbulkan efek jera atau kesadaran. Sehingga banyak murabbi sekarang tidak mau memberikan hukuman dan juga banyak sekali para mutarabbi yang tidak siap menerima hukuman. Akibatnya lahirlah kader-kader ‘cemen’ yang sedikit-sedikit ‘merajuk’ lalu mendeklarasikan diri ‘saya bukan kader lagi’.
Jangan pernah cita-cita kita beralih
Kita adalah sekelompok kaum
Yang merasakan nikmatnya letih dalam berdakwah
 Katanya dakwah, tapi tidak ta’at
Katanya dakwah tapi mudah sakit hati
Katanya dakwah, tapi mengritik amatlah tajam
Katanya dakwah, tapi kok tidak bijak
Mengenai marketisasi dakwah kampus tidak banyak yang bisa saya tangkap dan saya rasa kita semua sudah paham yang harus kita jual adalah kepribadian Islam, mengintegrasikan ‘isi’ engan ‘kemasan’. Tahap sedrhana yang harus kita lewati yaitu : @ Building Trust @ membangun kebutuhan manusia @ give solution @ close the sales.
Beberapa hal yang saya dapatkan dari kaka Ardi Ardinan, begitu luar biasa dan menyentak. Ada pegeseran makna pemakaian bahasa di kalangan ikhwah yang skarang menjadi trend (sebenarnya penyakit). “Tafaddhol akhi” kalimat ini sekarang menunjukkan pasrah stadium empat, seorang ikhwah yang mengucapkan ini tidak bisa diharapkan lagi. Ikhwah  sekarang kebayakan “Afwan”. Apalagi ketika menerima undangan, diajak rapat. Bukankah memenuhi undangan itu wajib hukumnya. Bahkan ada yang lebih parah lagi A5 terus (Afwan Akhi Ana Ada Acara). Menyakitkan sekali dan ingatlah afwan itu tanda kebancian,MAka Apakah kata AFWAN harus di hapuskan dari dunia ini,saya kira tidak mungkin karena kata ini juga terkadang penting sehingga yang menjadi masalah adalah penggunaaan kata AFWAN yang tidak sesuai dengan tempatnya ibarat menempatkan gelas diujung meja,sangat tidak dewasa. Sekarang juga berkembang suatu prototype yang entah muncul dari mana yaitu siapa yang memeberi usul harus ia yang jadi mas`ul. Ini kan tidak tepat karena akan membuat orang malas  pada kesempatan berikutnya memberikan usul.
MARI KITA BANGUN FILOSOFI AMAL BUKAN FILOSOFI JABATAN
Materi terakhir dari ustadz Harun, awalnya saya mengira adalah Kaka Harun Al Rasyid tetapi ternyat beliau adalah penanggnungjawab kader kampus se Makassar yang berjumlah lebih kurang 5000 kader. Luar biasa,, yang lebih luar biasa lagi adalah beliu rela menunda kuliahnya ketika itu adalah perintah Murabbi, beliau nikah muda dan baru mengajak istrinya ke Jawa 13 tahun kemudian menemui orangtuanya di Jawa (ehem,,intermezo)
Sikap pemimpin yang harus dikembangkan adalah kesadaran memimpin, sikap lapang dada, punya hati yang sangat luas toleransinya, bertumpu pada musyawarah (baik majelis rasmiyah maupun itisa’iyah), mampu merangkul orang yang sependapat dan tidak sependapat.
Parameter keberhasilan dan kemenangan seorang pemimpin adalah parameter ALLAH. . “Biarlah orang tak senang asalkan Engkau tetap ridho” keberhasilan itu adalah selama kebenaran tetap kokoh dalam hati kita. Keberhasilan  di mata manusia adalah mencermati gosip yang berkembang setelah kita berhenti jadi pemimpin.
Menjadi pemimpin seharusnya menonjolkan kecerdasan kita bukanlah menenggelamkan kemampuan kita, tidaklah wajar ketika seorang pemimpin tidak mampu menyelesaikan masalah SKS-nya. Bagaiman mau menyelesaikan masalah umat ini jika masalah pribadinya aja tidak beres. Menjadi pemimpin tidak harus mempersyaratkan pengalaman, jenderal Soedirman seorang panglima, seorang jenderal yang lahir dari pesantern tidak harus punya pengalaman dulu baru bias memimpin lascar perjuangan negeri ini. Pemimpin akan dapat pengalaman ketika peran kepemimpinan itu diambilnya. Ingat bangsa ini tidak akan pernah maju jika selalu memperyaratkan pengalaman dalam setiap pilihan profesi.
Peran seorang pemimpin haruslah memadukan peran sebagai seorang ayah (kal walid), sebagai seorang guru (kal murabbi), sebagai seorang panglima (kal Qa’id fil ma’rakah). Lebih lengkapnya ada dalam buku Al qiyadah wal Jundiyah karangan Syekh Mustafa Masyhur. Dalam pengambilan kebijakan seorang pemimpin harus berpegang pada prinsip berikut @ Al-Musyarokah ‘indal qarar artinya mengikutsertakan anggota dalam pengambilankeputusan. Ini yang belum sepenuhnya bias saya laksanakan.
KEPEMIMPINAN ITU INDAH BILA DILIHAT DARI LUAR  TAPI JADI BEBAN BAGI YANG MEMIKULNYA
@ mendorong untuk berani mengemukakan pendapat @ mendukung dalam pelaksanaan @memberikan pengakuan dan penghargaan @ bersikap adil jika ada kesalahan. Inilah kiranya yang dapat saya petik dari LMDK dua.
Nantikan serial selanjutnya,oleh-oleh dari Yogyakarta,,semoga